Minggu, 18 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
airlines-phone-number.comairlines-phone-number.com
airlines-phone-number.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sepatu Bot di Depan Pintu: Cerita Ayah yang Selalu...

Sepatu Bot di Depan Pintu: Cerita Ayah yang Selalu Siap Berangkat

Jadi ayah yang sering dinas luar kota bukan alasan lepas dari mengasuh anak. Ini cerita dan pelajaran soal hadir, meski sering tak di rumah.

Sepatu Bot di Depan Pintu: Cerita Ayah yang Selalu Siap Berangkat

Ada satu pemandangan yang sampai sekarang bikin gue nggak bisa lupa. Sepatu bot hitam gue, yang biasa gue pakai buat dinas ke luar kota, selalu berdiri di depan pintu. Di sebelahnya, sandal kecil anak gue, warna biru, kadang menghadap ke dalam, kadang menghadap ke luar, tergantung sempat nggak dia nata sandalnya pagi itu.

Setiap kali gue mau berangkat, dia berdiri di situ. Nggak nangis, nggak ngerengek. Cuma ngeliatin sepatu bot gue, terus ngeliatin gue, gantian. Kayak dia lagi ngitung ada berapa hari gue bakal hilang dari rumah.

Gue ayah dua anak. Kerjaan gue mengharuskan gue keliling kota hampir tiap bulan. Kadang tiga hari, kadang seminggu. Dulu, sebelum punya anak, gue pikir ini cuma soal logistik: siapa jaga rumah, siapa antar sekolah, siapa yang beliin susu kalau habis. Ternyata jauh lebih rumit dari itu.

Yang Nggak Ada di Itinerary

Di awal-awal jadi ayah, gue sempat percaya satu mitos: yang penting kualitas waktunya, bukan kuantitasnya. Kalimat itu kedengeran pintar, dan gue pakai buat nenangin diri sendiri tiap kali gue harus ninggalin rumah lagi.

Tapi ada satu momen yang ngejedotin gue. Waktu itu gue baru pulang dari dinas lima hari. Gue masuk rumah, langsung buka koper, dan anak gue yang pertama—umur empat tahun waktu itu—bukan lari ke gue. Dia lari ke koper. Dia buka resletingnya, ngintip ke dalam, terus nanya, "Ada oleh-olehnya?"

Nah, di situ gue sadar sesuatu. Buat dia, gue bukan cuma ayah yang pulang. Gue juga tukang pos. Dan itu nggak enak banget rasanya. Bukan karena dia salah, tapi karena gue yang selama ini bikin dia ngarep hal yang salah.

Kualitas waktu itu beneran ada, tapi dia nggak bisa berdiri sendiri. Kualitas butuh frekuensi. Nggak bisa gue cuma muncul dua hari sebulan lalu ngarep hubungan gue sama anak gue sedalam orang yang tiap hari main sama dia.

Anak Itu Nggak Butuh Ayah yang Sempurna, Dia Butuh yang Bisa Diandalkan

Gue mulai ngubah cara gue berangkat dan pulang. Nggak banyak, nggak muluk-muluk. Tapi ada beberapa hal yang gue rasa lumayan ngefek.

Pertama, gue berhenti ngilang tanpa kabar. Dulu gue pikir anak kecil nggak ngerti konsep "ayah dinas tiga hari". Ternyata dia ngerti, asal dikasih tau. Sekarang tiap mau berangkat, gue selalu ngobrol bentar sama dia. "Ayah pergi tiga malam ya. Hari Kamis ayah pulang. Kita bikin apa hari Sabtu?" Kadang dia jawab ngawur, kadang dia diem aja. Tapi minimal dia tau gue pergi bukan karena ngilang.

Kedua, gue bikin ritual kecil yang cuma milik kita. Nggak usah mahal. Anak gue suka banget gambar. Jadi tiap gue pergi, gue bawa satu lembar kertas kecil, dan gue tulis satu kalimat plus gambar jelek—beneran jelek, gue nggak bisa gambar—terus gue foto dan kirim ke mamanya buat ditunjukin. Sebaliknya, dia juga bikin gambar buat gue. Waktu gue pulang, gambar-gambar itu numpuk di meja. Kadang isinya rumah, kadang matahari, kadang cuma coretan. Tapi itu jadi jembatan yang nggak butuh wifi.

Ketiga, gue belajar nanya hal yang bener. Ini yang paling susah. Dulu gue selalu nanya, "Kangen ayah nggak?" dan jawabannya selalu "Kangen." Tapi itu jawaban sopan, bukan jawaban jujur. Sekarang gue nanya hal lain: "Minggu ini paling seru apa?" atau "Ada yang bikin kamu kesel nggak?" Kadang jawabannya bikin gue ngakak, kadang bikin gue diem. Tapi setidaknya gue dapet isi kepalanya, bukan cuma formalitas.

Soal Rasa Bersalah yang Nggak Ada Habisnya

Gue nggak akan pura-pura bilang gue udah bebas dari rasa bersalah. Sampai sekarang, tiap gue ninggalin rumah dan anak gue cuma ngeliatin dari pintu, ada bagian di dada gue yang rasanya kayak ditarik. Apalagi kalau gue liat postingan temen-temen yang tiap sore main sama anaknya di halaman.

Tapi gue belajar satu hal: rasa bersalah itu nggak berguna kalau cuma dipendem. Dia baru berguna kalau jadi bahan bakar buat ngelakuin sesuatu yang lebih bener. Entah itu nelpon sebelum tidur, atau nolak satu meeting tambahan biar bisa pulang lebih cepet, atau sekadar nanya ke anak gue hari ini dia makan apa.

Anak nggak butuh ayah yang selalu ada di rumah. Dia butuh ayah yang selalu bisa dia cari, bahkan dari jauh.

Yang Gue Pelajari dari Istri dan Anak

Ada satu hal yang sering dilupain orang yang sering bepergian: pasangan yang di rumah itu juga capek. Istri gue bukan cuma "yang jaga anak", dia yang ngurus semuanya waktu gue nggak ada. Kadang gue lupa itu.

Jadi sekarang, tiap gue pulang, gue coba mulai dari nanya ke dia dulu. Bukan langsung ngajak anak main. "Gimana minggu ini? Ada yang berat?" Kadang dia jawab singkat, kadang panjang. Tapi dari situ gue tau harus bantu di bagian mana. Kadang bantuannya bukan yang gede-gede—cuma cuci piring, atau nemenin anak main biar dia bisa tidur siang.

Anak gue juga ngajarin gue satu hal yang nggak pernah gue duga. Suatu hari dia bilang, "Ayah, kalau ayah pergi, aku sedih. Tapi kalau ayah pulang, aku seneng dua kali." Gue nanya, "Kenapa dua kali?" Dia jawab, "Satu karena ayah pulang. Satu karena aku udah kangen dari kemarin."

Gue nggak tau itu logika anak empat tahun atau filsafat tingkat dewa, tapi yang jelas, dia udah nemu caranya sendiri buat ngertiin kenapa ayahnya sering pergi. Dan tugas gue bukan bikin dia berhenti sedih. Tugas gue adalah mastiin dia tau, sejauh apapun gue pergi, gue selalu balik.

Buat Kamu yang Kopernya Selalu Siap

Kalau kamu orang yang sering banget keluar rumah—entah karena kerja, dinas, atau alasan lain—gue cuma mau bilang satu hal: kamu nggak harus milih antara jadi orangtua yang bener atau jadi orang yang bertanggung jawab sama kerjaan. Tapi kamu harus jujur sama diri sendiri soal mana yang lagi kamu kasih porsi lebih.

Nggak ada rumus ajaib. Yang ada cuma usaha kecil yang diulang terus-terusan. Telepon yang nggak cuma nanya "udah makan?", tapi dengerin cerita panjang yang nggak jelas ujungnya. Gambar jelek yang dikirim tiap minggu. Sandal kecil yang kamu tata biar sejajar sama sepatu bot kamu di depan pintu.

Sepatu bot gue masih berdiri di situ tiap pagi. Tapi sekarang, di sebelahnya, kadang ada gambar kecil yang dilipat, ditinggalin anak gue sebelum dia berangkat sekolah. Gue simpen gambar-gambar itu di dalam koper. Biar tiap gue buka koper di kota lain, gue inget buat apa gue pergi.

Tags: parenting hubungan keluarga ayah dinas luar kota quality time