Gue tinggal di Jakarta sejak kuliah, dan sekarang punya satu anak yang umurnya lima tahun. Kalau ada yang bilang ngasuh anak di kota besar itu mahal, gue setuju seratus persen. Tapi ada satu hal yang gue pelajari belakangan: mahal itu nggak selalu soal uang yang keluar, tapi soal kita nggak tahu mana yang benar-benar perlu dan mana yang cuma ikut-ikutan.
Dulu, dua tahun pertama jadi orang tua, gue dan istri hampir tiap minggu belanja mainan. Bukan karena anaknya butuh, tapi karena takut ketinggalan. Takut anak gue nggak dapat stimulasi yang cukup. Padahal, setelah dihitung-hitung, uang yang keluar buat mainan edukatif bisa lebih besar dari uang belanja bulanan. Nah, dari situ kami mulai mikir ulang.
Mainan Mahal Nggak Menjamin Anak Lebih Pintar
Ini yang paling gue sesali. Kami sempat beli mainan kayu impor yang harganya hampir sejuta, katanya sih buat melatih motorik halus. Ternyata anak gue lebih tertarik sama kardus bekas paket yang datang ke rumah. Dia bikin jadi rumah-rumahan, jadi mobil, jadi apa saja. Dan dia belajar lebih banyak dari kardus itu.
Baca juga: Anakku Hafal Bandara, Bukan Dapur: Seni Mengasuh dari Koper
Sejak itu, kami mulai rutin ke perpustakaan daerah, ikut kelas gratis di komunitas, dan memanfaatkan taman kota buat main. Hasilnya? Anak gue tetap aktif, tetap belajar, tapi pengeluaran kami turun drastis. Bukan berarti kami nggak pernah beli mainan lagi, tapi sekarang kami lebih selektif. Satu mainan bagus yang benar-benar dipakai lebih baik daripada sepuluh mainan murah yang cuma numpuk di lemari.
Yang mahal itu bukan mainannya, tapi rasa takut kita kalau anak ketinggalan. Begitu rasa takut itu bisa dikelola, dompet ikut tenang.
Susu, MPASI, dan Jebakan "Harus Premium"
Gue nggak mau masuk ke debat soal ASI versus susu formula, karena tiap keluarga punya kondisi masing-masing. Tapi yang mau gue soroti adalah soal label "premium". Banyak produk bayi dijual dengan harga dua kali lipat cuma karena kemasannya lebih meyakinkan. Padahal, menurut teman gue yang bidan, yang paling penting itu komposisinya, bukan harganya.
Untuk MPASI, kami memilih masak sendiri. Ini bukan cuma soal hemat, tapi juga lebih terkontrol. Kami beli bahan di pasar tradisional, bukan di supermarket premium. Sayur, protein, dan karbo yang sama, harganya bisa selisih 30-40 persen. Dalam sebulan, selisih itu lumayan banget buat ditabung ke pendidikan anak nanti.
Yang Kami Hemat, yang Kami Pertahankan
Ada hal-hal yang kami tekan biayanya, tapi ada juga yang kami pertahankan. Contohnya, kami nggak pelit soal buku dan pengalaman. Kami tetap beli buku, tapi lebih sering beli bekas atau tukar dengan sesama orang tua di grup komunitas. Kami juga tetap sisihkan uang buat jalan-jalan ke tempat baru, karena buat kami, pengalaman itu investasi buat anak.
Yang kami tekan justru hal-hal yang sifatnya konsumtif dan cepat basi. Baju anak, misalnya. Kami lebih sering terima warisan dari sepupu yang lebih besar. Anak cepat besar, baju cepat sempit, jadi beli baru terus itu pemborosan. Kecuali buat acara khusus, itu beda cerita.
Nggak Perlu Ikut Les Ini-Itu Kalau Anak Belum Siap
Di kompleks kami, anak umur empat tahun sudah les tiga macam: renang, musik, dan bahasa Inggris. Gue sempat panik. Rasanya kok anak gue ketinggalan. Tapi setelah ngobrol sama beberapa orang tua, ternyata banyak yang ikut les bukan karena anaknya butuh, tapi karena takut jadi satu-satunya yang nggak ikut.
Kami memutuskan buat nggak ikut arus itu dulu. Anak gue sekarang ikut satu kegiatan saja: kelas renang di kelurahan, biayanya jauh lebih murah dari les privat. Selebihnya, kami isi dengan main di rumah, baca buku, dan ngobrol. Menurut gue, anak umur segitu lebih butuh waktu bersama orang tua daripada jadwal yang padat.
Tentu saja, ini pilihan kami. Kalau kamu dan pasangan merasa anak butuh les tertentu, ya jalani. Yang penting, keputusan itu diambil sadar, bukan karena tekanan sosial. Karena tekanan sosial itu yang bikin pengeluaran membengkak tanpa hasil yang jelas.
Liburan Dekat Rumah Juga Bisa Jadi Momen Berharga
Dulu gue mikir liburan itu harus keluar kota, nginep di hotel, dan foto-foto buat update. Sekarang, setelah punya anak dan dompet yang harus dijaga, gue sadar liburan itu soal suasana, bukan lokasi. Kami sering ajak anak ke kebun raya, museum, atau sekadar naik kereta ke kota sebelah. Biayanya kecil, tapi anak tetap excited.
Yang paling gue ingat justru momen-momen sederhana. Waktu kami bikin tenda di ruang tamu pakai selimut, anak gue bilang itu "liburan paling seru". Padahal cuma di rumah. Dari situ gue belajar, anak kecil nggak butuh mahal. Mereka butuh perhatian dan waktu kita yang benar-benar hadir.
Jadi kalau kamu keluarga kecil di kota besar yang lagi mikir cara ngatur pengeluaran buat anak, saran gue cuma satu: mulai dari pertanyaan "ini benar-benar perlu atau cuma ikut-ikutan?". Jawabannya sering bikin kita kaget sendiri. Dan yang paling penting, hemat itu bukan berarti pelit. Hemat itu soal tahu prioritas, dan prioritas kita sebagai orang tua ya anak yang tumbuh bahagia, bukan anak yang punya segalanya tapi orang tuanya stres mikirin cicilan.